Segalanya Seperti Biasa

Aku menguap ketika alarm di nakas berdering berkali-kali.

Aku mematikannya dan segera menyibak selimut tebal yang membungkusku ketika aku tidur.

Aku bergidik ketika rasa dingin mulai menjalar akibat AC di kamar.

Merapikan ranjang, membuka jendela, mandi. Itu rutinitas-ku setiap pagi.

Aku mengecek ransel sembari merapihkan dasi biru yang wajib dipakai kecuali ketika seragam pramuka.

Aku menyandang ransel sambil memakai sepatu sekolahku dan bergegas keluar tanpa membuat suara.

Aku bergegas menyelinap ke bayang-bayang dan membaur.

Ini hobi-ku setiap pagi, sebelum sarapan. Hanya menonton mama yang sibuk memasak, sesekali berteriak membangunkanku dan papa.

"Papa! Bangun! Entar terlambat ke kantornya, loh!" Mama menoleh ke arah tangga yang sepi.

Mama memindahkan omelet ke piring dan menoleh lagi.

"Kanna! Cepetan bangun! Kalo telat, nanti dihukum, loh!" seru mama lagi.

Aku membekap mulut, menahan tawa agar tidak keluar.

Mama menggeleng-geleng dan kembali dengan kesibukannya. Beliau mulai memindahkan susu ke gelas.

Aku dapat mendengar langkah kaki menuju tangga. Aku bergegas menuju pintu dapur dan duduk di kursi meja makan.

Ketika mama menoleh, ia terpenjat dan menaruh sarapan di meja sambil mendelik ke arahku.

"Kamu telat bangun, ya, Na?" selidik mama sambil merapihkan alat masaknya.

Aku nyengir tanpa menjawab pertanyaan dari mama.

"Atau jangan-jangan alarm kamu mati lagi?" tanya mama lagi.

"Alarm Kanna, kan, emang sering bermasalah, Ma," ucapku santai.

"Nanti sore beli lagi, Na," saran mama. "Dari pada kamu telat bangun mulu. Sekalian tuh mama mau beli kulkas."

Papa yang baru datang segera duduk dan nimbrung dalam obrolan.

"Kulkas?" papa menatap mama bingung. "Ada apa lagi sama kulkasnya?"

"Udah enggak dingin, Pa," keluh mama sambil menghidangkan sarapan. "Es batu di freezer-nya meleleh semua. Bikin basah aja!"

Aku cuma mengangguk sambil menyantam omelet yang baru dihidangkan.

"Perasaan baru beberapa bulan diperbaiki gara-gara sering enggak dingin," komentarku.

"Kamu tanya sama kulkasnya aja, Na," ucap mama. "Mama gak ngerti lagi."

Aku hanya makan. Tidak memperdulikan obrolan mama dan papa tentang pekerjaan dan kulkas.

Setelah 30 menit sarapan, papa dan aku segera berangkat.

Aku menyambar kotak susu di kulkas sebelum bergegas menyusul papa yang sudah di mobil.

Mama mengantar hingga pagar dan kembali masuk setelah mobil lenyap dari pandangannya.

Jalan masih gelap, hanya diterangi oleh lampu jalan di kedua sisi. Kucing-kucing liar tidur meringkuk dibawah sorot lampu agar hangat. Aku menempelkan wajah di jendela mobil dan merasakan dingin.

"Na!" panggil papa.

Aku menoleh tanpa merespon.

"Hari ini kamu ada klub membaca, ya?" tanya papa.

"Enggak, kok, Pa," Aku menggeleng. "Guru yang mendampingi dimutasi ke luar kota. Belum ada yang gantiin."

"Na, kenapa kamu suka banget sama buku?" tanya papa. "Rak buku di kamar-mu aja sampe gak cukup. Padahal udah ada 2."

"Buku itu seru, Pa. Banyak pelajaran yang bisa diambil, walaupun itu novel atau komik," jelasku penuh semangat. "Belum lagi, banyak kosakata baru yang belom kuketahui."

"Bagus, deh," ucap papa.

"Bagus kenapa, Pa?" Aku menoleh, bingung.

"Jarang anak muda jaman sekarang yang suka baca, mereka lebih suka main," jawab papa. "Tapi kamu malah kecanduan baca. Bagus, dong?"

Aku hanya mengangguk mengerti.

"Kamu suka main game juga, kan, Na?" tanya papa.

"Suka, Pa," Aku mengangguk.

"Kamu main game apa?" tanya papa.

"Aku, sih, main otome game (dating simulation game)," jawabku.

"Kamu mau pacaran, ya, Na?" selidik papa.

"Bukan gitu, Pa," elakku. "Kanna cuma mau belajar bahasa inggris dari game."

Papa hanya mengangguk.

Mobil terus melaju hingga berhenti di depan pagar sekolah.

"Belajar yang serius, ya, Na," nasihat papa.

"Pasti, Pa," Aku tersenyum yakin sebelum keluar.

Aku memandang mobil papa yang hilang di belokan.

Aku menyusuri lapangan yang masih sepi, hingga seseorang menepuk bahuku.