Part 31

POV Ibu

Flashback on.

***

“Ubay, lebih baik kamu cari kerja di kota saja sana. Mumpung perut Fira belum semakin besar. Kalau keburu lahiran, nanti kalian bingung kalau kamu belum punya pendapatan tetap. Kasihan Fira ‘kan, nantinya?”

Kami sedang duduk bersama di ruang tengah. Kini kehamilan Fira sudah memasuki bulan ke tiga, jika semakin menunda untuk menyuruh mereka pergi dari sini, bisa-bisa aku kembali merasa berat hati saat melihat cucuku yang imut telah lahir. Itu tidak boleh terjadi. Secepatnya mereka harus pindah dari sini. Agar semua yang kurencanakan berhasil sampai akhir.

“Iya sih, Bu. Tapi kalau aku di kota sendiri pasti nggak akan betah, Bu. Sudah biasa hidup bersama seperti ini sama kalian,” protes Ubay.

“Sama Fira, Bay. Kalian pindah ke kota saja, biar gampang cari pekerjaan atau usaha di sana pasti lancar.”

“Ibu! Kok ngomongnya begitu sih?” Kini suamiku yang memprotesnya.