Lu Jianjun menitikkan air mata, tetapi sebagai seorang pria, ia mengeluarkan darah, bukan air mata.
Sejak kecil, dia tahu ibu mereka menunggu ayah mereka, menunggu dia datang dan membawa mereka pergi.
Saat itu, dia merasa sangat kesal kepada pria yang bernama belakang Lu.
Mengapa dia tidak kembali untuk mereka? Mengapa?
Mengapa dia membiarkan ibu mereka menunggu, berharap?
Berharap dan berharap, namun pada akhirnya, segalanya sia-sia.
Akhirnya pergi, meninggalkan dunia yang penuh penyesalan.
Dia membencinya, membenci pria itu.
Dia tidak tahu apakah dia harus memaafkannya atau tidak.
Dia benar-benar hilang arah sekarang.
Namun, ketika kebenaran terungkap, dia menyadari ada seseorang yang selalu menghalangi semuanya.
Pelakunya adalah bibinya yang sayang padanya dan selalu merawatnya.
Sekarang, dia tidak bisa menemukan siapa pun untuk dibenci lagi.