Celeste couldn't sleep that night. Alistair's words kept replaying in her head, haunting her thoughts like an unshakable spell.
"I will do anything to keep you safe, Celeste. Even if it means eliminating every possibility of you leaving."
That threat wasn't veiled. It was real. And what frightened her even more was that she had no idea how far Alistair would go to keep his control over her.
Celeste took a deep breath, trying to dispel the fear tightening around her chest. But even the air felt heavy, as if the room itself was suffocating under the weight of Alistair's overwhelming presence.
She rose from the bed, slipping on the delicate silk robe draped over the edge, then walked slowly to the window.
From the top floor of this penthouse, the city looked so small, so distant. Just like her now—trapped in Alistair's world with no way out.
"What are you thinking about?"
The deep voice suddenly cut through the silence, making Celeste flinch.
She turned around, finding Alistair leaning against the doorway, still dressed in his black shirt, the top few buttons undone, revealing a hint of his chest.
His gaze was sharp, filled with something unreadable.
"I just… can't sleep," she murmured.
Alistair stepped closer. His movements were slow, deliberate, but there was something in the way he walked that made Celeste want to step back. Yet, she knew it was useless.
She couldn't run.
Not from Alistair.
He stopped right in front of her, his piercing eyes holding her in place. "Are you afraid of me?"
Celeste held her breath. "I'm only afraid of… this situation."
Alistair smirked. "This situation? Or the fact that I will never let you go?"
Something tightened in Celeste's chest. Fear? Or something even more dangerous than that?
"I don't want to feel like a prisoner," she whispered.
Alistair lifted his hand, tucking a loose strand of hair behind her ear with a touch so gentle, yet it only made him seem more dangerous.
"You are not a prisoner, Celeste," he said, his voice deep and possessive. "You are mine. And I will never let go of what belongs to me."
Celeste's breath caught.
She knew.
From the very beginning, from the moment Alistair found her again after the accident…
She had never had a choice.
Not then.
Not now.
And perhaps… not ever.
Celeste menatap Alistair dengan perasaan campur aduk. Kata-katanya jelas merupakan sebuah klaim, sebuah kepastian yang menegaskan bahwa dia tidak memiliki kebebasan atas dirinya sendiri.
"Apa maksudmu… milikmu?" suaranya lirih, nyaris bergetar.
Alistair tidak segera menjawab. Dia menatapnya, mata hitamnya menelusuri setiap inci wajah Celeste seolah mengukirnya dalam ingatannya. Lalu, dengan gerakan lambat namun pasti, tangannya melingkari pinggangnya, menariknya lebih dekat hingga hampir tidak ada jarak di antara mereka.
"Aku tidak membutuhkan persetujuanmu, Celeste," bisiknya di dekat telinganya, napasnya yang hangat menyentuh kulitnya. "Aku hanya membutuhkanmu berada di sisiku. Itu saja."
Celeste mencoba mengatur napasnya yang mulai tersengal. Ada ketakutan di dadanya, tapi juga ada sesuatu yang lebih berbahaya—sesuatu yang membuat tubuhnya gemetar bukan hanya karena teror, tetapi karena kesadaran bahwa dirinya terjebak dalam sesuatu yang lebih dalam dari sekadar obsesi.
Dia ingin membantah. Ingin mengatakan bahwa dirinya bukan milik siapa pun. Tapi suara itu terhenti di tenggorokannya ketika Alistair mengangkat dagunya dengan dua jari, memaksanya untuk menatap langsung ke dalam matanya.
"Apa kau berpikir untuk pergi?" tanyanya, suaranya lebih lembut dari sebelumnya, tapi justru terasa lebih mengancam.
Celeste tidak bisa menjawab.
Alistair menyeringai, matanya berkilat tajam. "Kau tahu aku tidak akan membiarkan itu terjadi."
Jantungnya berdetak kencang. Celeste tahu bahwa di balik tatapan itu ada sesuatu yang lebih gelap, lebih dalam—dan dia tidak yakin bisa keluar dari jerat itu tanpa luka.
"Aku… hanya ingin sedikit ruang," akhirnya dia berbisik.
Alistair mengangkat satu alis, seolah menimbang kata-kata itu. "Ruang?"
Celeste mengangguk. "Ya. Aku butuh waktu untuk memahami semuanya."
Untuk pertama kalinya, ekspresi Alistair berubah. Dia menatapnya dalam-dalam, seolah sedang mempertimbangkan sesuatu. Lalu, dengan gerakan mendadak, dia meraih pergelangan tangan Celeste, menggenggamnya erat.
"Tidak ada ruang antara kita, Celeste," katanya, suaranya lebih rendah sekarang. "Semakin cepat kau menerima itu, semakin mudah semuanya untukmu."
Tatapan Celeste membesar. Ada sesuatu dalam suaranya—sesuatu yang membuat bulu kuduknya berdiri.
"Apa maksudmu?" tanyanya pelan.
Alistair mendekatkan wajahnya. "Aku sudah memberimu waktu terlalu lama. Aku cukup bersabar. Tapi sekarang… aku akan memastikan kau benar-benar mengerti apa artinya menjadi milikku."
Celeste merasakan sesuatu yang dingin merayapi tulang punggungnya.
Dan untuk pertama kalinya, dia menyadari…
Tidak ada jalan keluar.