WebNovelAnxienty!100.00%

Kupu-kupu

Hella merasa aneh dengan pakaiannya.

"Oi, mau ke kondangan apa ke kantor sih pakaian formal gitu?"

"Emang maunya gimana?"

Hella memikirkannya.

"Full body zirah sih, mantap!"

Celis menjawab "GAKK!!!" dengan tegas dan Hella mikir lagi.

"Pakaian dalamnya bebas tapi luarnya pake jubah, gimana? Kayak petulangan-petualang gitu."

"Aku gapunya."

Hella pasrah dengannya.

"Yaudah lah, lagian aku kesini cuma mau kasih info tentang setan."

Celis terkejut mendengar dan mulai serius.

"Sebelum itu, mending duduk dulu. Cape, kaki berdiri mulu."

Hella duduk bersila depan Celis dan Celis mengikuti.

"Di Muara Kaman, Desa benua puhun, rumornya ada orang melepas puluhan setan lalu merasuki tubuh warga disana. Mereka yang telah dirasuki setan, ciri-cirinya ga terlalu mencolok cuman kuku mereka agak panjang dan tajam. Roh dari tubuh asalnya ga bisa kembali dan sepenuhnya menjadi milik setan. Ada rumor lagi dimana satu keluarga disana yang mencoba untuk mensucikan jiwa salah satu dari mereka yang kena rasuki, namun mereka ga berhasil menyelamatkannya dan malah dibantai."

Perasaan janggal dan Celis bertanya.

"Jadi mereka yang dirasuki dapat kekuatan dari tubuh asalnya?"

Hella membenarkannya dengan mengangguk.

"Tapi ada juga kok, orang yang berhasil merebut tubuhnya."

"Jadi, jam berapa mulainya?"

"Diperkirakan jam 9, tapi aku gatau darimana mereka datang nantinya."

"Sip, aku nanti butuh portalmu untuk kesana."

Hella berdiri dan menghadap kebelakang.

"Kau ga perlu aku, gunakan saja katanamu."

Celis bingung.

"Hah?"

"Ketika seseorang berjanji setia kepada tuannya—

Hella menggunakan pisau bayangan untuk membuat portal.

"—seseorang itu akan membagi kekuatannya kepada Tuannya, itulah Loyalitas ku."

Celis terkejut mendengarnya, suara bel masuk berbunyi dari portal.

"Ah sudah bel, aku duluan."

Hella masuk kedalam portal dan tertutup. Celis tersadar kemarin sore, Hella berjanji mencari informasi untuknya dan disanalah secara tak langsung juga tak sadar keduanya membagi dan menerima kekuatannya.

"Darimana dia tau hal semahal itu."

Selang beberapa menit kemudian Celis kembali menggunakan pakaian biasanya, baju kaos hitam polos dan celana pendek abu abu lalu pergi ke dapur, membuka kulkas namun tidak ada sesuatu untuk dimakan.

Terdengar dari pintu depan suara ketukan. Celis berkata "Nyari siapa?" Sambil membuka pintu, sesaat pintu terbuka lebar, Dia terkejut siapa yang mendatanginya.

Perempuan muda berambut panjang bergelombang, bermata lebar warna coklat. Menggunakan jaket coklat berbulu dan menggunakan celana cargo crim dan dibelakangnya membawa tas ransel.

"Siapakah."

"Lia?! Kok tau aku disini?"

Lia adalah kakak sepupu dari keluarga angkatnya dulu, ga tua amat sih, cuma beda 3 bulan.

"Kepo."

Celis terdiam.

"..."

Sepuluh menit kemudian mereka pergi jalan berbelanja.

Celis memikirkan apa yang enak dimakan.

"Mending beli Ayam Ma'e apa Nasi Padang?"

"Ngikut aja."

Celis tersenyum lebar berkata

"Yaudah Mie Ayam."

Lia merasa aneh mendengarnya.

"Perasaan pilihannya tadi ayam Ma'e atau naspad deh."

Sampainya ditempat favorit Celis beli Mie Ayam.

Pakde menjamu 2 porsi Mie Ayam untuk mereka berdua.

"Udah lama ga ketemu, Celis. Tiba-tiba bawa pacar aja di warung pakde."

"Ga pakde, dia sepupuku. Aku baru aja dapat uang makanya baru bisa mampir kesini lagi."

"Hahaa, gitu ya."

Percakapan ditutup dengan Celis yang langsung memakan Mie nya dan Pakde kembali ketempatnya.

Lia bertanya

"Seringkah kesini?"

Celis mengangguk.

"Iya aku sering dulu waktu orangtuaku masih ada."

Lia terkejut mendengarnya karena Dia tidak sadar kalau Celis sudah tidak mempunyai orangtua.

"Hah? Iyakah?"

"Iya, mereka dibunuh. Terus aku dijadikan anak angkat Pak George, guru sekolahku."

"...."

Lia terdiam karena tidak sopan membawanya ke topik sensitif dan kemudian Celis bertanya

"Ohiya, kenapa kesini?"

"Aku ngurus berkas beasiswa, aku dapat beasiswa karena aku rangking dikelas."

"Gitu yaa..."

Celis menggeser mangkoknya dan Pakde datang membawa satu mangkok lagi lalu kembali. Celis mengambil cabe dan meremas jeruk ke Mie Ayam setelahnya memakannya lagi.

Lia terkejut, padahal mereka mengobrol tapi Celis bisa menghabiskan seporsi secepat itu.

"Cepatnya!"

Celis yang menikmati Mie Ayamnya setiap suapan langsung menggesernya lagi dan datang lagi satu porsi.

"Cepat?lambat ini."

Celis yang menikmati Mie Ayamnya setiap suapan langsung menggeser mangkoknya lagi sampai enam porsi dia habiskan sendirian dengan cepat.

Dia kemudian minum air putih dan Lia baru saja selesai makan.

"Banyak kali makan."

Celis dengan bangganya bilang

"Banyak? Dikit ni, porsi standar kenyang makan Mie Ayam ya cuma enam porsi doang."

Lia menghela nafas.

Sesaat kemudian meninggalkan warung mie ayam, dijalan Celis baru sadar akan sesuatu hal penting.

"Lia, katanya ada masalah di benua puhun."

Lia heran dengannya.

"Kok tau, padahal kejadian kemarin malam, emangnya sampe kesini kah sudah rumornya?"

"Kaga sih, cuma dikasi tau."

"Sama siapa?"

"Kepo."

Lia terdiam sejenak dan berkata

"Iya, ada yang ngelepas setan mungkin dia memanipulasi nya."

"Ada caranya ga? Buat lawan mereka?"

"Aku gatau tapi ada bapak-bapak yang rela bunuh anaknya gara-gara dirasuki, terus pas anaknya mati jadi abu."

"Gitu..."

Jam 19.34, Celis, Lia dan berada dikamar dan membereskan tempat tidur, tapi Celis mengeluarkan pakaian yang dia gunakan tadi pagi.

Lia heran.

"Mau ngapain?"

"Jalan."

Lia terdiam.

"..."

Setelah sesaat, berjalan mencari tempat kosong untuk membuka portal, Celis masih kurang percaya akan hal tentang janji itu, dengan memberikan kepercayaan bisa membagi kekuatan adalah hal mustahil bagi Celis namun dia mencoba meski aneh.

Celis mengambil pedang dari sarungnya dan langsung melakukan seperti Hella melakukannya, ruang tersobek dan tercipta ruang distorsi terbuka yang menuju ke benua puhun.

Dia masih tak percaya kekuatan seperti ini bisa dimiliki dengan mudah.

"Ahaha~ ,Aku cuma hoki kali ya?"

Langsung masuk berjalan kedalam dan tiba di tengah-tengah hutan, suasana malam yang dingin membuat Celis merasa ga enak badan.

"Aku benci dingin."

Mengambil Rokok dari kantong baju dan menyalakannya, menghembus... lalu memikirkan apa yang harus dilakukan kedepannya.

Celis Berjalan santai sambil menghisap rokok. Di posisi entah dari arah mana, seseorang dengan jubah tertutup di belakang pohon, mengintip melihat Celis, berpikiran hanyalah bocah gabut yang cari angin. Dia bersembunyi kembali.

Tak lama, Dari arah atas, terlihat bayangan-bayangan yang berloncatan sana-sini kemudian turun dan langsung berhadapan dengan Celis.

3 setan yang berdiri didepan Celis, berpakaian sehari-hari, juga berdarah dan robek-robek.

Setan pertama memiliki rambut kriting, setan kedua punya mata merah dan setan ketiga bertubuh kekar.

Celis cepat-cepat menghisap rokok supaya cepat habis, tapi setan kriting maju menyerang, Celis berhasil menghindar tapi Rokoknya terpotong akibat kuku panjang tajamnya.

Mencari jarak dan membuang rokok dari mulut, mengeluarkan Pedang Sumitsu. Terlihat seperti percaya diri tapi Jantungnya Celis berdetak kencang melawan ketakutan.

"padahal rokokku belum habis."

Melihat Celis sudah siap, Setan mata merah menghilang dari posisinya dan tiba dibelakang Celis.

"Weh!"

Setan mata merah melancarkan tinjuan tapi Celis menahannya dengan pedang Sumitsu.

Serangan dan pertahanan mereka menghasilkan suara seperti Besi yang tempa, gelombang angin yang kencang berhembus mengusir burung-burung dipohon sekitar. Celis berhasil menahan pukulan keras dengan pedang, memplesetkan pedang dari tangan Setan dan menendang menggunakan kaki kirinya lintasan setengah lingkaran kedalam dengan sasaran rusuk.

Setan mata merah terpental lumayan jauh, disusul serangan setan kriting, Celis dan Setan kriting saling berjual beli serangan satu sama lain, terlihat dari caranya menyerang dan bertahan mengayun tangannya, Setan kriting terlihat seperti orang yang ahli menggunakan belati.

Tak lama kemudian, bayangan besar dari atas datang, Serangan kejut dari setan kekar berotot datang menghantam menggunakan kedua tangannya, mereka berdua yang secara reflek mengetahuinya meloncat mundur kebelakang menghindari serangan berbahaya.

Dilanjut dengan setan mata merah, bertukar pukulan dan tendangan kemudian diganggu oleh setan kriting menggunakan kekuatan menghilang, berhasil beberapa kali melukai pinggang dan belakang Celis.

Celis kesakitan, dan tiba-tiba tendangan keras setan kekar datang dari samping kanan, terhembas jauh terguling ditanah.

Dan serangan dari atas lagi dilakukan setan kekar, Celis akan sadar serangan itu terjadi lagi langsung berguling guling kesamping menjauh. Tidak seperti sebelumnya, tumbukan langit ini lebih berat dibanding yang pertama sehingga membuat Celis terpental jauh bahkan pedangnya terlepas dari tangan.

Akibat serangan dahsyat menyebabkan asap tebal dan besar, Celis tergores dan robek di ujung alisnya karna batu yang lempar.

Celis sigap cepat mengambil pedang Sumitsu, lalu menghela nafas.

"kalo kena tadi pasti mati aku."

Takut akan serangan kejut dia mewaspadai sekitarnya dan melirik kiri dan kanan.

Tiba Serangan kejut lagi dari asap yang dihasilkan setan kekar, muncul setan kriting menyerang Celis, terjadi berjual beli serangan kembali tapi kali ini Celis mendapatkan momen titik vital yaitu rusuk.

Setan kriting cenderung terus menerus melancarkan serangannya, mengabaikan pertahanan yang membuat Celis mendapatkan celah, beberapa serangan berhasil terprediksi akurat dengan Celis. Dalam satu kesalahan Celis membanting tangan Setan kriting membuatnya terbuka lebar, Celis segera mengayun cepat pedangnya, memotong dari bahu kanan ke rusuk kiri setan kriting.

Setan kriting lenyap menjadi debu.

Setan mata merah dan kekar terkejut melihat rekannya telah jadi debu.

Celis menghadap ke arah mereka, mereka menggretak gigi dan langsung lari maju kedepan lalu menerjang loncat menyerang Celis.

Terlihat seperti diam tidak melakukan apapun dari pengelihatan mereka tapi dari sudut pandang Celis, dia memotong cepat mereka berdua. Memotong kedua tangannya, kaki, dan kepalanya lalu di tusukan terakhir di dada tengah.

Tubuh mereka jatuh ketanah dan menjadi debu dan tertiup angin yang dingin. Celis berjalan kedepan mencari desa benua puhun.

"Aku harus cepat, Suasananya mulai dingin."

Dari kejauhan terdengar suara ribut dan teriak seseorang, Celis segera berlari kesana.

Sesampainya di desa benua puhun, dia seperti sudah terlambat. Desa sudah hampir terbakar 4 rumah, tidak ada yang bisa memadamkannya, mereka dikejar, kabur, dan melawan para setan.

Celis menggunakan kecepatannya yang tidak bisa dilihat manusia langsung, membantu memotong dan Mencincang Setan. Macam-macam jenis kekuatan yang ditunjukkan seperti Es, Api, Angin, Otot yang membesar membuatnya menjadi kuat mengangkat sesuatu, dan pandai menggunakan belati.

Mereka semua terpotong secara tiba-tiba mengejutkan orang-orang disana.

komentar dan pujian terlontarkan.

Anak kecil yang selamat dari mangsaan setan, menangis karena berhasil selamat dan berlari mencari ibunya.

Para pejuang yang mencoba melawan setan terkejut melihat seperti bayangan dengan sedikit putih melintasi mereka dan tiba-tiba setannya terbelah dua lalu menjadi abu.

"Apa itu tadi?"

"Aku ga tau."

"Aku merasa seperti ada bayangan sedikit putih lewat di mataku."

Setelah kurang lebih 32 Setan telah dikalahkan, ada suara dari rumah, seorang perempuan yang teriak-teriak dan anak kecil yang menjerit menderita.

Perempuan itu adalah ibu-ibu muda, yang menangis menjerit melihat anaknya dirasuki setan.

"Wira!!!!"

"ARRRGGGGGHHHHHH!!!!!!"

Wira itu mencoba melawan, dari sudut pandang Wira, dia berkelahi dengan setan kecil didalam pikirannya. Meski cuma saling dorong mendorong lalu tamparan keras dari Wira berhasil mengeluarkan Setannya.

Reza kemudian termenung dan menatap ibunya kembali, dia senang.

"Ibu aku berhasil mengalahka—"

Tiba-tiba Celis muncul menusuk dada Wira didepan Ibunya Wira. Ibunya Syok melihat anaknya terbunuh didepan mata, Celis melepas pedang dari tubuh Wira dan kemudian meninggalkannya tapi perasaan me-janggal.

Suara tangisan ibu meretapi anaknya yang mati didepan mata membuat Celis melihat kebelakang.

Perasaan Ibu Wira tercampur aduk melihat wajah Celis, membuatnya menjadi emosi tak terhingga.

"BAJINGAN KAU!!! ANAK BIADAB!!! MATI KAU SANA DENGAN SETAN!!!! SEMOGA ORANGTUAMU JUGA MATI TERTUSUK PEDANGGGG!!!!"

Celis sebelum tidak mengerti kenapa dia marah tapi melihat Mayat anaknya yang tidak menjadi debu pun sadar, dan syok, jantung berdebar-debar, anxientynya kambuh.

Celis mencoba mengontrol nafasnya lalu berjalan perlahan keluar dari sana dan sambil mendengarkan maki cacian Ibu Wira.

Sesaat didepan pintu, Celis berteriak.

"Aku gapunya orangtua, Diamlah dan kubur anakmu. Sebar rumornya besok, akulah yang membunuh anakmu."

Kemudian Celis berjalan dan menghilang dari pandangan.