Antara Ambisi Dan Ketertarikan

Hari-hari berikutnya terasa seperti pusaran badai bagi Laila. Sejak presentasi besarnya di hadapan Leonidas dan para eksekutif, dia mendapati dirinya berada di bawah sorotan yang lebih intens dari sebelumnya. Semua orang mulai melihatnya bukan hanya sebagai karyawan biasa, tapi seseorang yang kini memiliki perhatian langsung dari sang CEO. Itu adalah kehormatan besar—tapi juga beban yang sangat berat.

Pagi itu, Laila duduk di meja kerjanya, matanya terpaku pada tumpukan dokumen yang harus ia tinjau. Kampanye yang ia rancang telah mendapatkan lampu hijau dari Leonidas, dan itu berarti dia harus memastikan semuanya berjalan dengan sempurna. Tidak ada ruang untuk kesalahan. Tapi di balik kesibukannya, ada sesuatu yang terus mengganggu pikirannya.

Leonidas.

Setiap kali mereka bertemu, ada ketegangan yang tak terucapkan di antara mereka. Cara pria itu menatapnya, seolah menembus hingga ke dalam pikirannya, membuatnya sulit bernapas. Sejak awal, Laila tahu bahwa bekerja di bawah Leonidas bukanlah hal yang mudah, tapi dia tidak pernah menyangka bahwa dia juga harus berjuang melawan gejolak perasaan yang perlahan-lahan mulai tumbuh dalam hatinya.

---

Hari itu, Laila diminta untuk menghadiri pertemuan pribadi dengan Leonidas di ruangannya. Itu adalah kali pertama dia dipanggil langsung tanpa perantara manajernya, dan itu membuatnya sedikit gugup.

Saat dia mengetuk pintu kaca besar kantor CEO, suara berat Leonidas terdengar dari dalam.

"Masuk."

Dengan hati-hati, Laila mendorong pintu dan melangkah masuk. Ruangan Leonidas jauh lebih besar daripada yang dia bayangkan. Jendela lebar di belakang meja kayu besar pria itu memperlihatkan pemandangan kota yang megah, dan rak buku tinggi di sisi lain ruangan memberikan kesan intelektual. Namun, yang paling mencuri perhatian Laila adalah sosok pria yang sedang duduk di belakang meja itu, menatapnya dengan mata gelapnya yang tajam.

"Laila," sapanya singkat, ekspresinya tetap tak terbaca.

Laila menelan ludah, lalu melangkah lebih dekat. "Anda memanggil saya, Pak?"

Leonidas tidak langsung menjawab. Dia hanya mengamati Laila sejenak sebelum berdiri dan berjalan menuju jendela. "Kampanye ini akan menjadi langkah besar bagi perusahaan. Aku ingin tahu apakah kamu benar-benar siap untuk menangani proyek sebesar ini."

Laila mengangguk, berusaha mempertahankan kepercayaan dirinya. "Saya sudah menyiapkan semuanya dengan matang, Pak. Saya yakin ini akan berhasil."

Leonidas berbalik, matanya meneliti ekspresi Laila. "Keyakinan itu bagus. Tapi ada perbedaan antara percaya diri dan gegabah. Aku ingin kamu memastikan setiap detail sudah sempurna. Jika ada celah sedikit saja, kita bisa kehilangan momentum."

Laila mengangguk lagi. "Saya mengerti, Pak."

Untuk beberapa detik, suasana hening. Laila bisa merasakan udara di ruangan itu semakin berat. Mata Leonidas masih menatapnya, namun kali ini ada sesuatu yang berbeda dalam tatapannya—sesuatu yang lebih dalam, lebih intens.

"Kamu bekerja keras," ucap Leonidas tiba-tiba. "Lebih keras dari kebanyakan orang yang pernah bekerja di perusahaan ini."

Laila terkejut dengan pujian itu. "Terima kasih, Pak. Saya hanya ingin melakukan yang terbaik."

Leonidas mengangguk kecil, lalu kembali ke meja kerjanya. "Baik. Aku ingin laporan mingguan tentang perkembangan proyek ini langsung darimu. Jangan lewatkan satu detail pun."

Laila menghela napas lega, merasa sedikit lebih tenang. "Baik, Pak. Saya akan memastikan semuanya sesuai rencana."

Saat dia berbalik untuk pergi, suara Leonidas kembali menghentikannya.

"Laila."

Dia menoleh.

"Kamu harus belajar untuk berpikir seperti seorang pemimpin. Jangan hanya mengikuti instruksi—buat keputusan."

Laila terdiam sejenak sebelum akhirnya tersenyum tipis. "Saya akan mengingatnya, Pak."

---

Malam itu, Laila duduk di meja makan kecil di apartemennya, menatap layar laptop dengan ekspresi serius. Dia telah menyusun rencana detail untuk kampanye, dan sekarang dia harus memastikan semua strategi yang dia buat benar-benar solid.

Namun, pikirannya terus kembali ke percakapannya dengan Leonidas.

Kenapa pria itu begitu sulit dipahami?

Kadang-kadang dia begitu dingin dan berjarak, seolah-olah tidak ada yang bisa mendekatinya. Tapi di saat lain, dia bisa memberikan kata-kata yang mengandung makna tersembunyi, seolah-olah dia sedang menguji sesuatu dalam dirinya.

Laila menggelengkan kepalanya, mencoba mengabaikan pikirannya yang kacau.

"Tidak, aku tidak boleh terbawa suasana," gumamnya pelan.

Bagaimanapun, ini adalah pekerjaan. Tidak lebih, tidak kurang.

---

Hari berikutnya, saat Laila tengah fokus bekerja di mejanya, sebuah email masuk ke kotaknya.

"Datang ke ruangan saya. Sekarang."

Email itu hanya berisi satu kalimat, tapi cukup untuk membuat jantung Laila berdegup lebih cepat.

Dia segera berdiri dan menuju ruangan Leonidas. Begitu masuk, dia melihat pria itu duduk di kursinya, menatap layar komputer dengan ekspresi serius.

"Ada yang bisa saya bantu, Pak?" tanyanya dengan hati-hati.

Leonidas tidak langsung menjawab. Dia hanya menggeser layar laptopnya ke arah Laila. Di sana, terlihat sebuah laporan yang menunjukkan hasil survei tentang kampanye mereka.

"Ada masalah," katanya singkat.

Laila melangkah lebih dekat dan membaca laporan itu. Matanya membesar saat melihat bahwa ada beberapa angka yang tidak sesuai dengan prediksi mereka.

"Saya tidak menyangka respons pasar akan seperti ini," gumamnya pelan.

Leonidas menyandarkan tubuhnya di kursi, tangannya terlipat di depan dada. "Aku ingin kamu turun ke lapangan. Cari tahu langsung apa yang sebenarnya terjadi."

Laila menoleh, sedikit terkejut. "Turun ke lapangan?"

"Ya," jawab Leonidas tegas. "Aku tidak butuh laporan teoritis. Aku ingin data nyata. Temui pelanggan, bicaralah dengan mereka, lihat dengan mata kepalamu sendiri."

Laila menelan ludah. Ini bukan tugas yang mudah. Tapi dia juga tahu bahwa ini adalah kesempatan untuk membuktikan dirinya.

"Baik, Pak," katanya akhirnya. "Saya akan segera mengatur jadwalnya."

Leonidas mengangguk. "Bagus. Jangan mengecewakanku, Laila."

---

Beberapa hari berikutnya, Laila benar-benar sibuk turun ke lapangan. Dia mengunjungi beberapa cabang toko, berbicara dengan pelanggan, dan mencatat semua masukan yang dia dapatkan. Dari interaksi itu, dia mulai memahami bahwa ada celah kecil dalam strategi mereka yang belum mereka antisipasi.

Saat dia kembali ke kantor dan menyusun laporannya, Laila merasa lega. Dia telah mendapatkan jawaban yang dibutuhkan, dan sekarang dia siap melaporkannya pada Leonidas.

Ketika dia masuk ke ruangan pria itu keesokan paginya, Leonidas menatapnya dengan penuh minat.

"Apa yang kamu temukan?" tanyanya.

Laila menyerahkan laporannya. "Kami memiliki konsep yang kuat, tapi ada beberapa aspek yang tidak cukup menarik perhatian segmen pelanggan tertentu. Saya sudah menyiapkan beberapa strategi penyesuaian untuk mengatasinya."

Leonidas membaca laporan itu sejenak, lalu menatap Laila dengan tatapan yang lebih lembut dari biasanya. "Kamu melakukan pekerjaan yang baik."

Laila sedikit terkejut. "Terima kasih, Pak."

Leonidas menutup berkas itu dan tersenyum tipis. "Sepertinya aku tidak salah memilih orang."

Hati Laila berdegup lebih kencang. Ada sesuatu dalam cara Leonidas mengatakannya yang terasa lebih dari sekadar pujian biasa.

Dan untuk pertama kalinya, dia mulai bertanya-tanya…

Apakah semua ini hanya soal pekerjaan? Atau ada sesuatu yang lain di antara mereka?

Hari-hari berikutnya menjadi lebih sibuk dari sebelumnya. Setelah menemukan celah dalam strategi kampanye mereka, Laila langsung mengajukan perubahan dan menyesuaikan beberapa aspek pemasaran agar lebih efektif. Namun, ada satu hal yang tidak bisa dia abaikan—kehadiran Leonidas yang semakin dekat dalam hidupnya.

Setiap kali mereka bertemu, tatapan pria itu semakin tajam, seolah mengamati setiap gerak-geriknya. Ada ketegangan yang menggantung di udara, sesuatu yang tidak bisa dijelaskan, tapi semakin sulit diabaikan.

Pagi itu, Laila baru saja sampai di kantornya ketika sebuah email masuk.

"Rapat darurat di ruang CEO. Sekarang."

Laila mengernyit. Ini tidak biasa. Biasanya, rapat besar selalu direncanakan terlebih dahulu, tapi ini… seperti sesuatu yang mendadak.

Dengan cepat, dia merapikan berkas-berkasnya dan berjalan menuju ruangan Leonidas. Begitu dia masuk, dia mendapati beberapa manajer senior sudah duduk di sana dengan ekspresi serius. Di ujung meja, Leonidas duduk dengan tenang, namun matanya berbinar tajam.

"Laila," panggilnya begitu dia masuk.

Laila segera mengambil tempat duduk, berusaha menyembunyikan kegelisahannya.

"Baru saja kami mendapat laporan bahwa salah satu pesaing utama kita akan meluncurkan kampanye besar yang mirip dengan konsep kita," ujar salah satu manajer pemasaran dengan nada cemas.

Laila terkejut. "Apa? Tapi kita sudah lebih dulu meluncurkan konsep ini. Bagaimana mungkin?"

"Kami belum tahu pasti, tapi tampaknya mereka telah mendapatkan bocoran informasi dari suatu tempat," jawab manajer lainnya.

Suasana ruang rapat semakin berat. Laila merasa dadanya mulai sesak. Jika ini benar, maka proyek yang sudah dia kerjakan dengan susah payah bisa gagal total sebelum sempat berkembang.

Leonidas mengetuk meja dengan jarinya, membuat semua orang terdiam. Tatapannya dingin dan tajam.

"Kita tidak bisa membiarkan ini terjadi," katanya pelan, namun penuh kewibawaan. "Kita harus bertindak lebih cepat. Laila, aku ingin kamu membuat revisi besar pada kampanye ini dalam waktu kurang dari seminggu."

Laila menelan ludah. "Seminggu, Pak?"

"Ya," jawab Leonidas tegas. "Aku tahu ini tidak mudah, tapi kamu sudah membuktikan bahwa kamu bisa berpikir cepat dan mengambil keputusan yang tepat. Aku ingin melihat sejauh mana kamu bisa membawa proyek ini."

Laila terdiam sejenak. Ini adalah tantangan terbesar yang pernah dia hadapi sejak bekerja di perusahaan ini. Tapi dia tahu, jika dia berhasil, maka posisinya akan semakin kuat.

"Akan saya kerjakan, Pak," katanya akhirnya dengan suara mantap.

Leonidas mengangguk. "Bagus."

Rapat selesai, dan semua orang mulai keluar satu per satu. Namun, sebelum Laila sempat berdiri, Leonidas menatapnya dan memberi isyarat agar dia tetap di tempatnya.

Ketika ruangan sudah kosong, Leonidas bangkit dari kursinya dan berjalan mendekatinya.

"Kamu terkejut?" tanyanya.

Laila menatapnya dengan hati-hati. "Tentu saja, Pak. Ini bukan sesuatu yang saya duga."

Leonidas menyilangkan tangannya. "Aku ingin tahu, apa yang kamu pikirkan tentang ini?"

Laila menarik napas dalam-dalam. "Saya pikir ini adalah ujian besar bagi saya, Pak. Tapi saya juga tahu bahwa jika saya tidak mengambil tantangan ini, maka saya tidak akan pernah berkembang."

Senyum tipis terukir di sudut bibir Leonidas. "Jawaban yang bagus."

Laila merasa jantungnya berdegup lebih cepat. Pria ini… dia memiliki cara untuk membuatnya merasa tertantang dan diperhatikan dalam waktu yang bersamaan.

"Tapi, Pak," lanjut Laila, mencoba mengalihkan pikirannya. "Bagaimana jika pesaing kita sudah terlalu jauh melangkah?"

Leonidas menatapnya lama sebelum akhirnya menjawab, "Jika mereka ingin bermain kotor, maka kita harus bermain lebih cerdas."

Laila mengangguk. "Saya akan memastikan kita tetap unggul."

Leonidas menatapnya sejenak sebelum akhirnya berkata, "Aku tidak pernah ragu tentang itu."

---

Seminggu berikutnya adalah neraka bagi Laila. Dia bekerja hampir tanpa henti, mengatur ulang strategi, melakukan riset tambahan, dan menyusun konsep baru yang lebih segar. Setiap hari, dia tidur larut malam dan bangun lebih awal.

Tapi yang mengejutkannya, Leonidas juga terlibat lebih banyak dalam proyek ini daripada sebelumnya. Biasanya, seorang CEO tidak akan terlalu sering ikut campur dalam detail pemasaran, tapi pria itu seolah ingin memastikan semuanya berjalan sempurna.

Dan yang lebih mengganggu pikiran Laila adalah, setiap kali mereka bekerja bersama, jarak di antara mereka semakin tipis.

Seperti malam itu, saat mereka berdua terjebak lembur di kantor.

Ruangan rapat hanya diterangi lampu redup, sementara Laila duduk di depan laptopnya, mengedit beberapa elemen kampanye. Di sebelahnya, Leonidas duduk dengan tangan terlipat, mengamati layar dengan ekspresi serius.

"Kamu butuh istirahat," katanya tiba-tiba.

Laila tersentak. "Saya baik-baik saja, Pak."

Leonidas menghela napas. "Jangan terlalu memaksakan diri. Aku butuh kamu dalam kondisi terbaik."

Laila tersenyum kecil. "Saya pikir Anda juga tidak mengambil nasihat Anda sendiri, Pak."

Leonidas menoleh padanya, dan untuk pertama kalinya, ada kilatan kehangatan di matanya.

"Kamu benar," katanya pelan.

Mereka terdiam sejenak.

Untuk beberapa detik, hanya suara kipas laptop yang terdengar di antara mereka. Laila bisa merasakan detak jantungnya semakin cepat, terutama saat dia menyadari betapa dekatnya Leonidas dengannya.

Lalu tiba-tiba, Leonidas berbicara dengan suara yang lebih pelan dari biasanya.

"Kamu tahu, Laila… aku jarang melihat seseorang yang bekerja sekeras ini."

Laila menelan ludah. "Saya hanya ingin melakukan yang terbaik, Pak."

Leonidas menatapnya lama sebelum akhirnya berkata, "Aku tahu."

Dan sebelum Laila sempat merespons, pria itu bangkit dari kursinya.

"Baiklah, kita cukupkan untuk malam ini," katanya. "Aku akan meminta sopir mengantarmu pulang."

Laila terkejut. "Pak, saya bisa pulang sendiri—"

"Tidak," potong Leonidas. "Sudah cukup kamu bekerja keras. Aku tidak ingin melihatmu kelelahan sampai tidak bisa berpikir jernih."

Laila ingin membantah, tapi ada sesuatu dalam nada suara Leonidas yang membuatnya tidak bisa menolak.

Akhirnya, dia hanya mengangguk.

"Terima kasih, Pak," katanya pelan.

Leonidas tidak menjawab, hanya memberikan senyuman tipis yang entah kenapa terasa lebih hangat dari biasanya.

Saat Laila melangkah keluar dari kantor malam itu, pikirannya dipenuhi dengan kebingungan yang lebih besar dari sebelumnya.

Dia tahu bahwa hubungan antara mereka masih sebatas profesional. Tapi ada sesuatu yang berubah… sesuatu yang perlahan-lahan menariknya lebih dalam ke dalam dunia Leonidas.

Dan untuk pertama kalinya, dia bertanya-tanya…

Apa yang sebenarnya pria itu pikirkan tentangnya?

Dan yang lebih penting—apa yang dia sendiri rasakan terhadap pria itu?