Setelah malam itu, ada sesuatu yang berubah dalam dinamika antara Laila dan Leonidas. Hubungan mereka masih berada dalam batas profesional, tapi ada ketegangan yang tak terelakkan setiap kali mereka bertemu.
Laila berusaha mengabaikan pikirannya, mencoba meyakinkan dirinya bahwa semua ini hanya bagian dari pekerjaan. Tapi semakin dia berusaha menjauh dari bayang-bayang Leonidas, semakin pria itu terasa dekat.
---
Hari itu, kantor sedang sibuk dengan persiapan presentasi besar untuk kampanye yang telah diperbarui. Setelah seminggu kerja keras, akhirnya Laila merasa siap untuk menunjukkan hasilnya kepada para eksekutif.
Dia berdiri di depan ruang rapat, menunggu giliran untuk masuk. Tangannya sedikit berkeringat, meskipun dia telah melakukan ini berkali-kali sebelumnya. Namun, kali ini berbeda. Kali ini, dia merasa seluruh perhatian kantor tertuju padanya.
Saat pintu ruang rapat terbuka, matanya langsung bertemu dengan Leonidas yang sudah duduk di ujung meja. Tatapannya seperti biasa—tajam dan penuh evaluasi.
"Laila, silakan mulai," ujar Leonidas singkat.
Laila menarik napas dalam dan mulai menjelaskan konsep baru yang telah ia susun. Dia berbicara dengan percaya diri, menunjukkan bagaimana strategi mereka lebih unggul dibandingkan kompetitor, bagaimana mereka bisa mengambil kembali posisi dominan di pasar.
Selama presentasi, mata Leonidas tidak pernah lepas darinya. Bukan hanya sekadar mendengarkan, tapi mengamatinya, menilainya dengan cara yang membuat Laila merasakan tekanan luar biasa.
Ketika dia selesai, ruangan terdiam selama beberapa detik.
Lalu, Leonidas berbicara.
"Bagus," katanya, suaranya tenang namun penuh otoritas. "Kamu berhasil menemukan celah yang tidak terlihat sebelumnya. Aku menyukai pendekatan ini."
Laila merasa dadanya mengembang sedikit. Itu adalah pujian yang jarang keluar dari mulut Leonidas, dan dia merasa puas karena semua kerja kerasnya tidak sia-sia.
Namun, sebelum dia bisa menikmati momen itu, salah satu eksekutif lain angkat bicara.
"Tapi ini masih dalam tahap konsep, bukan? Apakah ada jaminan bahwa ini akan berhasil di pasar?"
Leonidas menoleh ke arah pria itu, lalu kembali menatap Laila.
"Apa jawabanmu?" tanyanya langsung kepada Laila, seolah ingin mengujinya.
Laila menegakkan punggungnya. "Tidak ada strategi yang bisa memberikan jaminan 100%, Pak. Tapi dengan data dan riset yang kami lakukan, saya yakin ini memiliki potensi tinggi untuk sukses. Kami juga sudah menyiapkan beberapa skenario cadangan jika ada hambatan di lapangan."
Leonidas tersenyum tipis, tanda bahwa dia puas dengan jawabannya.
"Baik," katanya. "Mulai eksekusi kampanye ini secepatnya."
Setelah rapat selesai, Laila merasa lega. Tapi sebelum dia sempat meninggalkan ruangan, Leonidas memanggilnya.
"Laila, tetap di sini sebentar."
Para eksekutif lainnya mulai keluar, meninggalkan mereka berdua di dalam ruangan yang kini terasa jauh lebih kecil dari sebelumnya.
Leonidas bersandar di meja, menatapnya dengan ekspresi yang sulit ditebak.
"Kamu semakin berkembang," katanya pelan. "Aku bisa melihatnya."
Laila sedikit tersipu. "Terima kasih, Pak. Saya hanya ingin memastikan saya melakukan pekerjaan saya dengan baik."
Leonidas mengangguk. "Dan kamu melakukannya lebih dari sekadar baik."
Untuk beberapa saat, mereka hanya saling menatap. Ada sesuatu di mata pria itu, sesuatu yang hampir membuat Laila lupa bahwa dia masih berada di tempat kerja.
Tapi sebelum situasi semakin canggung, Leonidas berbicara lagi.
"Aku ingin kamu ikut dalam pertemuan dengan klien besar minggu depan," katanya.
Laila terkejut. "Minggu depan?"
"Ya," jawab Leonidas. "Ini akan menjadi kesempatan besar bagimu untuk melihat bagaimana negosiasi tingkat tinggi dilakukan. Aku ingin kamu ada di sana."
Laila menelan ludah. Ini adalah kesempatan yang luar biasa.
"Tentu, Pak. Saya akan siap."
Leonidas tersenyum tipis, lalu mengangguk. "Bagus. Sekarang, kembali bekerja."
Laila segera keluar dari ruangan itu dengan jantung masih berdebar kencang.
Apa yang sebenarnya sedang terjadi?
---
Beberapa hari berikutnya, Laila sibuk mempersiapkan diri untuk pertemuan dengan klien. Ini bukan sekadar pertemuan biasa—ini adalah kesepakatan bernilai miliaran yang bisa mengubah arah perusahaan.
Namun, ada satu hal yang tidak bisa dia abaikan.
Setiap kali dia dan Leonidas berada dalam satu ruangan, ketegangan itu semakin nyata.
Ada momen-momen kecil yang tidak bisa dia jelaskan—tatapan yang bertahan sedikit lebih lama, jarak yang semakin menipis, nada suara Leonidas yang terkadang lebih lembut dari yang seharusnya.
Dia mencoba mengabaikannya, tapi semakin dia berusaha, semakin dia sadar bahwa perasaan itu nyata.
Dan itu berbahaya.
---
Hari pertemuan akhirnya tiba.
Laila mengenakan setelan formal berwarna biru tua, rambutnya tertata rapi. Dia ingin memastikan bahwa dia tampil profesional dan siap menghadapi klien-klien besar ini.
Saat dia tiba di ruang rapat, Leonidas sudah ada di sana, berbicara dengan beberapa eksekutif lainnya. Ketika matanya menangkap kehadiran Laila, dia mengangguk kecil sebagai tanda bahwa dia menyadari kehadirannya.
Pertemuan berjalan intens. Klien yang mereka hadapi bukanlah orang-orang yang mudah diyakinkan, tapi Leonidas menangani semuanya dengan keahlian yang luar biasa.
Laila memperhatikannya dengan kagum—cara dia berbicara, cara dia mengendalikan arah pembicaraan, bagaimana dia bisa membalikkan situasi yang sulit menjadi menguntungkan bagi perusahaan.
Di akhir pertemuan, mereka berhasil mencapai kesepakatan besar. Semua orang tampak puas, dan Leonidas terlihat tenang seperti biasa.
Saat mereka keluar dari gedung pertemuan, hari sudah mulai sore. Leonidas berjalan di sebelah Laila, lalu tiba-tiba berkata, "Kamu melakukannya dengan baik."
Laila tersenyum kecil. "Saya hanya mengamati dan belajar, Pak."
Leonidas menoleh padanya, lalu berkata dengan nada yang lebih santai, "Kamu akan menjadi lebih besar dari yang kamu bayangkan, Laila."
Laila terdiam. Kata-kata itu terdengar sederhana, tapi entah kenapa, mereka terasa lebih dalam dari sekadar pujian biasa.
Mereka berjalan menuju mobil perusahaan yang sudah menunggu. Saat sopir membuka pintu untuk mereka, Leonidas tiba-tiba berhenti dan menatap Laila.
"Laila," panggilnya pelan.
Laila menoleh.
"Jika kamu diberi pilihan—untuk tetap berada di jalur yang aman, atau mengambil risiko demi sesuatu yang lebih besar—apa yang akan kamu lakukan?"
Laila menatapnya, mencoba memahami makna di balik pertanyaan itu.
Kemudian, dengan suara mantap, dia menjawab, "Saya akan mengambil risiko."
Leonidas tersenyum tipis.
"Bagus."
Tanpa mengatakan apa-apa lagi, dia masuk ke dalam mobil, meninggalkan Laila berdiri di sana dengan hati yang penuh kebingungan.
Karena untuk pertama kalinya, dia merasa bahwa pertanyaan itu bukan hanya tentang pekerjaan.
Tapi tentang sesuatu yang lebih dari itu.
Hari itu terasa berjalan lebih lambat dari biasanya. Setelah pertemuan penting dengan klien besar, Laila mencoba kembali fokus pada pekerjaannya. Namun, pikirannya terus melayang ke sebuah undangan yang kini tergeletak di mejanya.
Sebuah kartu berwarna hitam elegan dengan tulisan emas:
"Exclusive Business Gala – VIP Invitation."
Yang membuatnya lebih terkejut bukanlah undangan itu sendiri, melainkan pesan dari Leonidas yang menyertainya:
"Aku ingin kamu datang. Aku ingin melihat bagaimana kamu bersinar di luar ruang rapat."
Laila membaca ulang kata-kata itu, berusaha mencari makna tersembunyi di baliknya. Leonidas bukan tipe orang yang mengeluarkan kata-kata tanpa alasan. Undangan ini pasti bukan sekadar formalitas.
Namun, mengapa dia ingin Laila datang?
Apakah ini bagian dari pekerjaan? Atau… ada sesuatu yang lain?
Laila menghela napas dan menyandarkan tubuhnya ke kursi. Dia tahu bahwa menolak bukanlah pilihan.
---
Malam acara akhirnya tiba.
Laila berdiri di depan cermin besar di apartemennya, mengenakan gaun malam berwarna navy blue yang elegan. Gaun itu sederhana namun anggun, dengan potongan yang pas di tubuhnya, menonjolkan siluetnya tanpa terlihat berlebihan.
Dia menarik napas dalam. Ini bukan pertama kalinya dia menghadiri acara formal, tapi untuk pertama kalinya, dia merasa tegang bukan karena acaranya—melainkan karena seseorang yang menunggunya di sana.
Pikirannya melayang ke Leonidas.
Apakah pria itu juga melihat acara ini sebagai pertemuan bisnis biasa? Atau ada alasan lain di balik undangan ini?
Saat mobil perusahaan yang dikirimkan untuknya berhenti di depan hotel mewah tempat acara berlangsung, Laila keluar dengan langkah mantap. Begitu memasuki ruangan, dia langsung terkesima oleh kemewahan yang terpampang di depannya.
Lampu kristal berkilauan, para tamu dengan pakaian glamor bercakap-cakap di sekitar meja-meja marmer, sementara musik klasik mengalun lembut di latar belakang.
Namun, sebelum dia sempat mengagumi lebih lama, sebuah suara yang sudah sangat dikenalnya terdengar di belakangnya.
"Laila."
Jantungnya berdegup lebih cepat.
Dia berbalik dan mendapati Leonidas berdiri di hadapannya.
Malam itu, pria itu terlihat lebih menawan dari biasanya. Setelan hitamnya terlihat sempurna di tubuhnya yang tegap, dan aura kewibawaannya semakin kuat dalam suasana seperti ini.
Tatapan Leonidas menyapu dirinya dari atas ke bawah. Sekilas, ada sesuatu dalam matanya yang berbeda—sesuatu yang lebih dari sekadar penilaian profesional.
"Kamu datang," katanya dengan suara rendah.
Laila tersenyum tipis. "Tentu saja, Pak. Anda yang mengundang saya."
Leonidas menyipitkan matanya sedikit, seolah menangkap sesuatu di balik nada suara Laila.
"Malam ini, lupakan sejenak urusan kantor," katanya. "Anggap saja ini malam untuk menikmati dunia dari sudut yang berbeda."
Laila menelan ludah. Dunia dari sudut yang berbeda?
Sebelum dia sempat bertanya lebih lanjut, Leonidas mengulurkan tangannya.
"Ikut aku," katanya.
Laila ragu sejenak, tapi akhirnya menerima uluran tangan itu. Tangannya terasa hangat, kokoh, dan anehnya… nyaman.
Mereka berjalan melewati kerumunan, menuju area VIP di mana hanya orang-orang tertentu yang bisa masuk. Di sana, berbagai pengusaha besar dan figur terkenal sedang berbincang dengan santai sambil menikmati anggur mahal.
Beberapa dari mereka langsung menyapa Leonidas dengan hormat.
"Lama tak bertemu, Leonidas!" ujar seorang pria paruh baya dengan jas abu-abu mahal. "Dan siapa wanita cantik ini?"
Leonidas melirik Laila sebelum menjawab dengan tenang, "Salah satu aset terbaik perusahaanku."
Laila hampir tersedak mendengar jawaban itu.
Namun, entah kenapa, kata-kata itu juga membuatnya merasakan sesuatu yang aneh—sesuatu yang menyerupai kebanggaan.
Pria itu mengangguk mengerti. "Ah, aku mengerti. Dia pasti sangat berbakat jika bisa berada di sini bersamamu."
Leonidas tersenyum tipis. "Lebih dari sekadar berbakat."
Laila menahan napas. Apa maksudnya?
Sebelum dia sempat mencari jawaban, Leonidas menggiringnya ke meja tempat dua pria lain sedang menunggu. Salah satunya adalah calon mitra bisnis potensial yang telah lama diincar oleh perusahaan.
Leonidas menarik kursi untuk Laila sebelum duduk di sampingnya.
"Baiklah, mari kita mulai percakapan yang lebih menarik," katanya, memandang pria di seberangnya. "Tapi sebelum itu… aku ingin kamu mendengar pendapat Laila tentang ini."
Laila terkejut. "Pak?"
Leonidas menatapnya dengan penuh keyakinan. "Kamu sudah membuktikan dirimu di ruang rapat. Sekarang, tunjukkan bahwa kamu bisa berbicara di meja para pemimpin."
Laila menelan ludah. Dia tahu ini bukan sekadar ujian.
Ini adalah kesempatan—dan sekaligus tantangan.
Dengan cepat, dia mengumpulkan keberaniannya, lalu mulai berbicara.
Malam itu, Laila menyadari satu hal:
Leonidas tidak hanya mengujinya.
Dia menariknya ke dalam dunianya.
Dan semakin lama dia berada di dalamnya, semakin sulit baginya untuk keluar.
etelah malam gala itu, Laila merasa ada sesuatu yang berubah dalam hubungannya dengan Leonidas.
Bukan hanya tentang pekerjaan, bukan hanya tentang bagaimana dia mulai diberi tanggung jawab lebih besar di perusahaan. Ada sesuatu di antara mereka—sesuatu yang tak terlihat, namun begitu nyata.
Tatapan Leonidas yang semakin tajam setiap kali mereka berbicara. Nada suaranya yang sedikit melunak, namun tetap penuh kendali. Cara dia membuat Laila merasa diperhatikan… dan diuji pada saat yang bersamaan.
Laila mencoba mengabaikannya. Tapi dia tahu dia gagal.
Hari itu, Laila tengah fokus mengerjakan revisi kampanye pemasaran yang diminta Leonidas ketika tiba-tiba notifikasi email muncul di layar laptopnya.
"Datang ke ruanganku. Sekarang." – L
Laila menelan ludah. Ada sesuatu dalam pesan singkat itu yang membuat jantungnya berdebar lebih cepat.
Dia bangkit, merapikan sedikit pakaiannya, lalu berjalan menuju ruang CEO di lantai paling atas.
Begitu dia masuk, Leonidas sudah berdiri di dekat jendela besar, punggungnya menghadap pintu.
Tanpa menoleh, dia berkata, "Tutup pintunya."
Laila menurut. Ada ketegangan di udara, sesuatu yang berbeda dari biasanya.
Leonidas akhirnya berbalik, menatapnya dengan ekspresi yang sulit diartikan.
"Apa pendapatmu tentang gala kemarin?" tanyanya tiba-tiba.
Laila mengerjapkan mata, sedikit terkejut dengan pertanyaan itu.
"Itu… mengesankan," jawabnya jujur. "Banyak hal yang bisa dipelajari, terutama tentang bagaimana bisnis berjalan di balik layar."
Leonidas menyilangkan tangan di dadanya, seolah menilai jawabannya. "Dan bagaimana menurutmu tentang Maria?"
Laila tersentak. Dia tidak menyangka Leonidas akan menanyakan hal itu.
"Saya… tidak tahu banyak tentangnya," jawabnya hati-hati.
Leonidas tersenyum tipis, tapi tatapannya tajam. "Maria bukan orang yang bisa diabaikan begitu saja. Dia lebih dari sekadar mantan rekan bisnis."
Laila merasa ada sesuatu yang tersembunyi dalam kata-kata itu.
Sebelum dia bisa bertanya lebih lanjut, Leonidas melangkah mendekatinya.
"Tapi bukan itu yang ingin aku bicarakan," katanya pelan.
Jarak di antara mereka semakin dekat.
Laila bisa merasakan kehangatan tubuhnya, bisa melihat sorot mata pria itu yang begitu intens.
"Ada sesuatu yang sedang terjadi di antara kita," ucap Leonidas dengan suara rendah. "Dan aku tahu kamu juga merasakannya."
Laila menahan napas.
"Leonidas, ini… tidak profesional," bisiknya.
"Tapi itu tidak berarti kita bisa mengabaikannya," balasnya cepat.
Hening.
Hanya suara napas mereka yang terdengar di antara ketegangan yang menggantung di ruangan itu.
Laila tahu ini berbahaya.
Tapi dia juga tahu… dia sudah melangkah terlalu jauh untuk bisa kembali.