Laila meninggalkan ruang CEO dengan pikiran yang kacau.
Kata-kata Leonidas terus berputar di kepalanya.
"Ada sesuatu yang sedang terjadi di antara kita. Dan aku tahu kamu juga merasakannya."
Itu bukan sekadar dugaan. Itu pernyataan.
Sebuah pernyataan yang berbahaya.
Begitu tiba di mejanya, Laila mencoba menenangkan diri dengan kembali fokus pada pekerjaannya. Tapi setiap kali dia menatap layar laptop, bayangan Leonidas kembali menghantuinya.
Bagaimana pria itu bisa mengatakan hal seperti itu dengan begitu yakin? Dan yang lebih mengganggunya—kenapa dia tidak bisa menyangkalnya?
Dia butuh udara.
Laila segera bangkit dari kursinya dan berjalan ke pantry kantor. Ruangan kecil itu kosong saat dia masuk, memberikan sedikit ketenangan yang dia butuhkan. Dia menuangkan secangkir kopi, berharap kafein bisa sedikit menjernihkan pikirannya.
Namun, ketenangannya hanya bertahan beberapa detik.
"Pikiranku tidak sepenuhnya salah, kan?"
Laila hampir menjatuhkan cangkirnya.
Dia berbalik cepat, dan di sana—bersandar di pintu pantry dengan ekspresi yang terlalu santai—berdiri Leonidas.
"Pak?" Laila berusaha terdengar profesional, tapi suaranya sedikit bergetar.
Leonidas melangkah masuk, menutup pintu di belakangnya.
"Kamu menghindariku," katanya, menatapnya tajam.
Laila menggeleng. "Saya hanya butuh waktu untuk berpikir."
Leonidas mendekat. "Dan apa hasilnya?"
Laila menggigit bibirnya, berusaha menemukan kata-kata yang tepat. "Ini… tidak benar."
Leonidas tersenyum kecil, tapi ada sesuatu di matanya yang lebih dalam. "Kenapa?"
"Karena kita bekerja di perusahaan yang sama. Karena saya hanya seorang karyawan biasa dan Anda adalah CEO."
"Dan?"
"Dan…" Laila menunduk, mencoba mengabaikan cara pria itu memperhatikannya. "Karena ini akan merusak segalanya."
Leonidas menghela napas, lalu mengambil langkah lebih dekat hingga jarak mereka hanya beberapa inci.
"Laila," katanya pelan. "Aku tidak pernah tertarik pada karyawan perusahaan ini. Aku tidak pernah tertarik pada siapa pun, sampai kamu datang."
Laila menahan napas.
"Tidak ada yang memaksamu untuk merasakan hal yang sama," lanjutnya. "Tapi kalau kamu merasa ada sesuatu, jangan berpura-pura tidak ada."
Hening.
Laila merasa jantungnya berdebar begitu kencang, hingga suara detaknya hampir menenggelamkan suara di sekelilingnya.
Haruskah dia melangkah mundur?
Atau… haruskah dia membiarkan perasaan ini berkembang lebih jauh?
Sebelum dia bisa memutuskan, suara seseorang dari luar pantry membuat mereka tersadar.
"Pak Leonidas? Anda di sini?"
Leonidas menghela napas, lalu mundur beberapa langkah. "Kita akan bicara lagi."
Kemudian, dia berbalik dan meninggalkan ruangan, sementara Laila masih berdiri terpaku di tempatnya, jantungnya masih berdebar kencang.
Dia tahu ini belum berakhir.
Sebenarnya, ini baru saja dimulai.
Hari-hari setelah insiden di pantry terasa semakin aneh bagi Laila.
Leonidas tidak lagi berbicara tentang perasaan mereka secara langsung, tetapi tatapan dan sikapnya menunjukkan bahwa dia tidak melupakan apa yang terjadi.
Sementara itu, gosip mulai menyebar di kantor.
Beberapa rekan kerja mulai berbisik-bisik setiap kali Laila lewat. Beberapa dari mereka bahkan terlihat mencoba mencari tahu lebih banyak tentang hubungannya dengan Leonidas.
Dan yang lebih buruk, Maria—wanita yang pernah mendekati Leonidas di gala—tampaknya mulai memperhatikannya.
Suatu sore, saat Laila sedang bersiap untuk pulang, sebuah email misterius masuk ke kotaknya.
"Jika kamu pikir bisa masuk ke dunia Leonidas tanpa konsekuensi, kamu salah. Bertemu denganku besok. Kita perlu bicara. – M"
Laila menelan ludah.
Maria.
Apa yang sebenarnya wanita itu inginkan?
Dan lebih penting lagi—apa yang sebenarnya dia ketahui tentang Leonidas?
Laila duduk di sebuah kafe dengan suasana elegan di pusat kota, menunggu seseorang yang ia harap tidak perlu ditemuinya. Maria, wanita yang terlihat begitu percaya diri di malam gala, memintanya untuk bertemu secara langsung.
Laila tidak mengerti apa yang sebenarnya diinginkan Maria darinya, tetapi satu hal yang pasti—ini bukan sekadar pertemuan biasa.
Beberapa menit kemudian, sosok Maria muncul di pintu kafe. Dengan gaun sederhana namun berkelas, wanita itu berjalan mendekat dengan ekspresi penuh percaya diri.
"Senang kamu mau datang," kata Maria, meletakkan tasnya di atas meja.
Laila mencoba tersenyum, meskipun hatinya dipenuhi kebingungan. "Saya tidak tahu alasan Anda ingin bertemu, tapi saya rasa ini bukan sekadar obrolan ringan, kan?"
Maria tersenyum kecil. "Langsung ke intinya. Aku suka itu."
Pelayan datang membawa pesanan mereka, dua cangkir kopi hitam. Maria tidak menunggu lama sebelum mulai berbicara.
"Aku ingin memberimu peringatan, Laila."
Laila mengangkat alis. "Peringatan?"
Maria mengaduk kopinya dengan pelan sebelum menatap Laila lurus-lurus. "Leonidas bukan pria biasa. Aku yakin kamu sudah menyadarinya."
Laila menegang, tetapi dia tetap berusaha mempertahankan ekspresi tenangnya. "Maksud Anda?"
Maria tersenyum, tapi ada sesuatu yang dingin di dalamnya. "Aku pernah berada di posisimu. Aku pernah menjadi seseorang yang dekat dengannya."
Laila merasa dadanya sedikit sesak mendengar itu.
"Tapi satu hal yang harus kamu tahu tentang Leonidas," lanjut Maria, "dia punya masa lalu yang tidak bisa begitu saja diabaikan."
Laila menelan ludah. Dia ingin menyangkal, ingin berkata bahwa itu bukan urusannya, tetapi jauh di dalam hatinya, dia tahu bahwa dia memang penasaran.
"Apa yang Anda maksud?" tanya Laila akhirnya.
Maria menghela napas sebelum bersandar di kursinya. "Leonidas tidak pernah membiarkan orang terlalu dekat dengannya, Laila. Jika dia mulai tertarik padamu, itu berarti dia sedang bermain dengan sesuatu yang tidak bisa dia kendalikan. Dan itu berbahaya."
Laila merasakan bulu kuduknya meremang. "Berbahaya dalam arti apa?"
Maria menatapnya dengan serius. "Dia bukan pria yang hanya memiliki kekuatan di dunia bisnis. Ada sesuatu yang lebih dalam darinya—sesuatu yang bahkan aku sendiri tidak bisa sepenuhnya pahami."
Laila menggigit bibirnya, merasa hatinya mulai dipenuhi pertanyaan-pertanyaan yang tak terjawab.
"Kalau kamu ingin tetap berada di sisinya, kamu harus siap," lanjut Maria. "Siap untuk menghadapi sesuatu yang lebih dari sekadar hubungan profesional atau perasaan pribadi."
Laila terdiam.
Maria tersenyum kecil, lalu mengangkat cangkir kopinya. "Aku hanya ingin memberimu peringatan. Sisanya, keputusan ada di tanganmu."
Setelah mengatakan itu, Maria berdiri dan meninggalkan Laila sendirian dengan pikirannya yang semakin kusut.
---
Hari itu di kantor, Laila tidak bisa berkonsentrasi. Kata-kata Maria terus terngiang di kepalanya.
"Jika dia mulai tertarik padamu, itu berarti dia sedang bermain dengan sesuatu yang tidak bisa dia kendalikan. Dan itu berbahaya."
Apa maksudnya?
Apakah benar ada sesuatu yang lebih dalam tentang Leonidas yang selama ini tidak dia ketahui?
Saat Laila masih sibuk dengan pikirannya, sebuah pesan masuk ke layar laptopnya.
"Datang ke ruanganku. Sekarang." – L
Laila menghela napas. Sepertinya pertanyaannya akan segera terjawab.
Dia berjalan menuju ruang CEO dengan perasaan campur aduk. Ketika dia masuk, Leonidas sedang berdiri di dekat jendela, seperti biasanya.
Namun kali ini, ada sesuatu yang berbeda dari ekspresinya.
"Kamu bertemu dengan Maria," katanya tanpa berbalik.
Laila terkejut. "Bagaimana Anda tahu?"
Leonidas akhirnya menoleh, matanya tajam. "Aku tahu segalanya, Laila."
Laila menelan ludah. "Jadi… apa yang dia katakan benar?"
Leonidas tidak langsung menjawab. Dia berjalan mendekatinya, tatapannya penuh pertimbangan.
"Maria adalah bagian dari masa laluku," katanya akhirnya. "Tapi itu tidak ada hubungannya denganmu."
"Tidak ada hubungannya?" Laila mengulang, sedikit tidak percaya. "Kalau begitu, kenapa dia merasa perlu memperingatkanku?"
Leonidas menghela napas, lalu duduk di kursinya. Dia menatap Laila lama sebelum akhirnya berbicara.
"Aku tidak seperti pria lain, Laila."
"Aku tahu itu," jawab Laila cepat.
Leonidas tersenyum kecil, tapi ada kelelahan dalam sorot matanya. "Maria tidak salah. Aku punya masa lalu yang rumit. Aku punya… rahasia."
Laila menunggu.
"Aku tumbuh di keluarga yang tidak biasa," lanjut Leonidas. "Bisnis ini—semua yang kulakukan—bukan hanya tentang uang. Ini tentang kekuasaan, pengaruh, dan menjaga keseimbangan yang rapuh di dunia ini."
Laila mengerutkan kening. "Maksud Anda?"
Leonidas terdiam sesaat sebelum berkata pelan, "Aku tidak hanya mengendalikan perusahaan ini. Aku mengendalikan lebih dari itu."
Laila merasa jantungnya berdetak lebih cepat.
"Dan jika kamu tetap berada di sisiku, Laila," lanjutnya, suaranya lebih dalam. "Itu berarti kamu akan terlibat dalam dunia yang tidak semua orang bisa pahami."
Laila menggigit bibirnya.
"Apakah kamu takut?" tanya Leonidas.
Laila menatap pria itu, mencoba mencari kebenaran di balik matanya.
"Aku tidak tahu," jawabnya jujur.
Leonidas tersenyum kecil, tapi kali ini, senyumnya terasa penuh makna.
"Kita lihat saja," katanya pelan.
Dan entah kenapa, Laila merasa bahwa mulai saat itu, hidupnya tidak akan pernah sama lagi.