Jatuh lebih dalam

Laila mengira setelah percakapan terakhirnya dengan Leonidas, dia bisa kembali bekerja seperti biasa. Namun, kenyataannya jauh dari itu.

Setiap kali dia berada di kantor, dia merasakan tatapan pria itu. Bukan hanya sekadar pengawasan dari seorang CEO kepada bawahannya, tetapi sesuatu yang lebih dalam—lebih berbahaya.

Leonidas tidak pernah mengatakannya secara gamblang, tetapi dia tidak perlu. Sikapnya sudah berbicara banyak.

Laila bukan lagi sekadar karyawan di mata pria itu.

Dan itu menakutkan.

Bukan karena dia tidak menyukainya, tetapi karena dia tahu, jika dia membiarkan dirinya jatuh, dia akan jatuh terlalu dalam.

---

Panggilan Tengah Malam

Malam itu, Laila terbangun karena dering ponselnya. Dengan mata setengah terbuka, dia meraba-raba meja samping tempat tidurnya.

Saat melihat nama yang tertera di layar, kantuknya langsung lenyap.

Leonidas.

Jantungnya berdebar cepat. Kenapa pria itu menelepon di tengah malam?

Dengan ragu, dia mengangkat panggilan itu.

"Laila."

Suara pria itu terdengar lebih berat dari biasanya. Lelah.

"Pak Leonidas?" Laila duduk tegak di tempat tidurnya. "Ada yang bisa saya bantu?"

Hening sejenak.

"Aku butuh kau datang ke rumahku."

Laila terdiam. "Apa?"

"Datanglah. Aku tidak akan memaksamu, tapi…" suara pria itu melembut. "Aku hanya ingin bicara."

Laila menelan ludah. Ini ide yang buruk. Sungguh buruk.

Tapi sebelum dia bisa berpikir lebih jauh, kata-kata itu sudah keluar dari mulutnya. "Baiklah."

---

Di Rumah Sang CEO

Laila tidak tahu apa yang dia harapkan saat tiba di rumah Leonidas.

Rumah itu besar, lebih seperti mansion daripada sekadar hunian pribadi. Dengan gerbang besi yang tinggi dan halaman luas yang dihiasi lampu-lampu taman yang redup, tempat itu terasa seperti dunia lain.

Saat pintu terbuka, Leonidas berdiri di ambang pintu. Dia tidak mengenakan jas seperti biasanya, hanya kemeja putih dengan lengan tergulung dan beberapa kancing terlepas, memperlihatkan sedikit dadanya.

Laila menelan ludah.

"Masuklah," katanya pelan.

Dia melangkah masuk, merasa seolah dia baru saja memasuki wilayah yang penuh bahaya.

"Ada apa, Pak?" tanyanya, mencoba menjaga jarak.

Leonidas berjalan menuju bar kecil di ruang tamu, menuangkan segelas minuman, lalu menyerahkannya pada Laila.

"Minumlah."

Laila menggeleng. "Saya tidak minum alkohol."

Leonidas tersenyum kecil. "Ini hanya jus jeruk."

Laila mengambil gelas itu dengan ragu, lalu menyesapnya sedikit.

"Kenapa saya di sini?" akhirnya dia bertanya.

Leonidas duduk di sofa, menatapnya lama sebelum akhirnya berbicara. "Aku hanya butuh seseorang untuk bicara malam ini."

Laila mengerutkan kening. "Saya tidak mengerti."

Leonidas meletakkan gelasnya di meja, lalu menyandarkan tubuhnya. "Kau pernah merasa… kehilangan arah, Laila?"

Pertanyaan itu mengejutkannya.

"Maksud Anda?"

"Ketika kau sudah mencapai semua yang kau inginkan, tapi tetap merasa kosong."

Laila tidak tahu harus menjawab apa.

Dia tidak pernah melihat Leonidas seperti ini—rentan, seolah ada sesuatu yang menghantuinya.

"Saya pikir… semua orang pernah merasa seperti itu," jawabnya akhirnya.

Leonidas menghela napas. "Aku pikir bisnis adalah satu-satunya yang penting. Tapi akhir-akhir ini, aku mulai meragukan itu."

Laila menatapnya. "Kenapa Anda mengatakan ini pada saya?"

Leonidas tersenyum kecil. "Karena entah bagaimana, kau ada di pikiranku lebih sering dari yang seharusnya."

Laila merasakan jantungnya berdetak lebih cepat.

"Leonidas, saya tidak tahu harus mengatakan apa."

Leonidas menatapnya dengan mata yang lebih lembut dari biasanya. "Katakan saja kau akan tinggal di sini malam ini."

Laila tersentak. "Apa?"

"Tidak ada yang terjadi. Aku hanya butuh seseorang di sini malam ini."

Laila ingin mengatakan tidak. Dia ingin pergi.

Tetapi ada sesuatu dalam mata pria itu yang membuatnya tidak bisa menolak.

Malam itu, dia tidak pergi.

Dan tanpa sadar, garis yang selama ini dia pertahankan… semakin memudar.

Malam itu, Laila tidak banyak tidur.

Dia duduk di salah satu sofa besar di ruang tamu rumah Leonidas, tangannya menggenggam cangkir teh yang sudah mulai dingin. Lampu-lampu di rumah itu redup, menciptakan bayangan-bayangan samar di dinding.

Leonidas duduk tak jauh darinya, diam, hanya menatap keluar jendela besar yang memperlihatkan pemandangan kota yang gemerlap di kejauhan.

Ada sesuatu di dalam pria itu malam ini—sesuatu yang membuatnya tampak lebih manusiawi, lebih rapuh daripada yang pernah Laila lihat sebelumnya.

"Kenapa saya?" suara Laila akhirnya memecah keheningan. "Kenapa Anda memilih saya untuk ada di sini malam ini?"

Leonidas mengalihkan tatapannya padanya. "Karena kau berbeda."

"Berbeda?"

"Kau tidak seperti orang-orang di sekitarku. Mereka semua menginginkan sesuatu dariku. Kekuasaan, uang, koneksi. Tapi kau… kau tidak peduli dengan semua itu."

Laila terdiam.

Dia ingin menyangkalnya, ingin mengatakan bahwa itu tidak benar. Tapi jauh di dalam hatinya, dia tahu Leonidas tidak sepenuhnya salah.

Dari awal, dia hanya ingin bekerja keras, mendapatkan pengalaman, dan menjalani hidupnya tanpa terlibat dalam permainan kekuasaan di perusahaan itu. Tapi Leonidas… pria ini telah mengacaukan segalanya.

"Saya tidak tahu apakah itu hal yang baik atau buruk," Laila mengakui.

Leonidas tersenyum kecil. "Menurutku, itu hal yang baik."

Mereka kembali terdiam.

Hingga tiba-tiba—

BRAK!

Suara benturan keras dari luar rumah membuat Laila tersentak. Leonidas langsung berdiri, ekspresinya berubah tajam.

"Tunggu di sini," katanya sebelum berjalan cepat menuju pintu depan.

Tapi Laila tidak bisa hanya diam. Jantungnya berdebar keras saat dia mengikuti Leonidas dari belakang, langkah kakinya hati-hati.

Saat Leonidas membuka pintu, sosok seorang pria berdiri di sana.

Tinggi, dengan setelan hitam yang rapi, tapi dengan wajah yang terlihat penuh amarah.

"Leonidas," suara pria itu dingin. "Kau pikir kau bisa menghindar dariku?"

Leonidas menghela napas panjang sebelum menjawab. "Apa yang kau inginkan, Adrian?"

Adrian?

Laila belum pernah mendengar nama itu sebelumnya. Tapi dari nada suara Leonidas, jelas pria ini bukanlah tamu yang diundang.

Adrian menyeringai. "Kau tahu apa yang aku inginkan. Aku hanya menunggu terlalu lama."

Leonidas mengepalkan tangannya. "Pergi. Aku tidak akan mengulanginya dua kali."

Adrian tertawa kecil. "Kau pikir aku datang sejauh ini hanya untuk pergi begitu saja? Jangan bercanda, Leo."

Leo?

Laila terkejut mendengar nama panggilan itu. Tidak ada seorang pun di kantor yang berani memanggil Leonidas dengan nama santai seperti itu.

Siapa sebenarnya pria ini?

Adrian mengalihkan tatapannya ke Laila, matanya meneliti gadis itu dari atas ke bawah.

"Dan siapa ini?"

Leonidas langsung bergerak, berdiri sedikit di depan Laila, seolah melindunginya. "Dia tidak ada hubungannya dengan ini."

Adrian mengangkat alis, lalu tersenyum sinis. "Benarkah? Dari caramu bereaksi, aku rasa dia sangat ada hubungannya."

Laila bisa merasakan ketegangan di udara semakin meningkat.

Adrian menatap Leonidas lagi. "Dengar, aku hanya ingin bagian yang seharusnya menjadi milikku. Kau tahu apa yang aku bicarakan."

Leonidas mengepalkan rahangnya. "Aku tidak berutang apa pun padamu."

"Kau tahu itu bohong."

Laila melihat otot-otot di rahang Leonidas menegang. Dia tidak tahu apa yang sedang terjadi, tapi jelas ini bukan sekadar masalah bisnis biasa.

Adrian mendekat. "Kau bisa pura-pura tidak peduli, Leonidas. Tapi cepat atau lambat, kau akan kehabisan waktu."

Setelah mengatakan itu, Adrian berbalik dan berjalan pergi, meninggalkan mereka dalam keheningan yang mencekam.

Laila menoleh pada Leonidas. "Siapa dia?"

Leonidas menutup pintu perlahan, lalu menghela napas. "Seseorang dari masa lalu yang seharusnya sudah terkubur."

Laila tidak tahu harus berkata apa.

Tapi yang jelas, dia baru saja melihat sisi lain dari Leonidas yang selama ini tersembunyi.

Dan semakin dia mengenalnya… semakin dia sadar bahwa pria itu menyimpan terlalu banyak rahasia.