Waktu sudah menunjukkan pukul lima sore. Bisma keluar dari ruangannya, hendak menemui Hayu dan mengajaknya pulang, banyak hal yang ingin dia bicarakan. Sayangnya orang yang baru saja dia pikirkan itu terlihat sedang bersama seseorang.
“Jelita?”
Hayu sedang bersama Jelita saat Bisma mulai mendekat, sepertinya obrolan mereka asyik sekali, sampai-sampai tak tahu jika Bisma sudah ada di belakang mereka.
Jelita yang mulai sadar, segera menyambut Bisma dan menggandeng tangganya.
“Kita mau ke mana, kamu bilang kamu lagi stres, aku sudah datang ke sini, lho. Kamu menyuruhku menjemputmu, tadi? Finally aku udah di sini, Bisma,” ucapnya manja.
Bisma tidak fokus dengan apa yang dikatakan Jelita, dia malah menatap Hayu yang juga sedang menatapnya. Mata Hayu menampakkan kebenciannya. Hayu sakit hati melihat pemandangan yang ada di hadapannya. Untungnya Candra yang hendak pulang melihat sekretarisnya itu sedang menyaksikan adegan dua insan yang tak tahu diri itu. Candra segera menghampiri mereka.
“Ayo, Hayu, kamu kan, ada janji denganku, kenapa masih berdiri di sini.”
Hayu yang langsung mengerti perkataan Candra bergegas mengambil tasnya dan segera berpamitan dengan Jelita dan Bisma. Dia cukup tahu diri untuk tak mengganggu kemesraan kekasihnya dengan calon istrinya itu.
Perih, sakit, itu yang dia rasakan. Ada rasa yang tak bisa di jelaskan dengan kata-kata. Kesedihan menyusup di hati Hayu.
Melangkah mengekori Candra yang kemudian merangkulnya, membuat Bisma marah dan kesal luar biasa. Dia mengepalkan tangan di samping tubuhnya, tak rela tangan Candra menyentuh pundak kekasihnya itu. Sementara Candra menoleh ke arah Bisma dan memamerkan senyum manisnya.
“Lepasin tanganku!” perintah Bisma pada Jelita.
Jelita bingung dengan Bisma, “Apa, kenapa, kamu marah? Memang aku berbuat apa padamu? Kamu aneh,” ujar Jelita melepas tangan Bisma.
“Kamu yang menyuruhku datang ke sini, kenapa jadi kamu yang seolah-olah tak ingin melihatku, dasar plin-plan!”
Sepersekian detik dia sadar, bahaya jika Jelita sampai mengataknya pada maminya, dia pasti akan terkena banyak pelanggaran yang akan di ucapkan mamainya. Segera dia minta maaf pada Jelita.
“Maaf, aku tak bermaksud marah padamu, hanya saja, aku tadi sedang kesal.”
Jelita mengerutkan keningnya, alisnya bertautan, bingung. "Kamu kesal dengan siapa? Denganku, atau kamu kesal dengan Candra yang bersama sekretarisnya. Jangan bilang gadis yang merebut hatimu itu Hayu, sekretaris Candra itu!”
“Tebakan kamu memang benar, dia kekasihku, tapi jangan sekali-kali kamu menyentuhnya, aku tidak akan memaafkan kamu, kalau sampai kamu menyentuhnya, walaupun hanya seujung kuku sekalipun!”
Jelita bukannya marah, dia malah tertawa mendengar ancaman Bisma padanya, “Kamu lucu, Bisma. Aku mana mungkin menyentuhnya. Tanpa aku menyentuhnya, aku yakin Tante yang akan menyingkirkannya. Jadi jangan banyak omong, kamu ternyata tak sepintar yang aku kira.”
“Sudahlah, ayo. Kita ke mana, sekalian kita makan malam bersama. Sia-sia kita membicarakan hal yang nggak ada untungnya buatku,” ajak Jelita menarik tangan Bisma masuk ke lift. Mereka mengendarai mobil Bisma.
Sejak masuk ke mobil Bisma lebih memilih untuk diam, dia tak tahu harus berkata apa, pikirannya melayang pada Hayu dan Candra. Apa yang sedang mereka lakukan saat ini, memikirkan mereka membuat dia mencengkeram setir dengan kencang hingga buku-buku jarinya memerah.
Jelita yang lelah bercerita dari tadi menoleh ke arah Bisma, dilihatnya tatapan Bisma yang nanar serta cengkeramannya pada setir mobil, membuat sesuatu di dalam hatinya perih. Mencintai memang menyakitkan, tapi dia pikir tak semenyakitkan ini jika dia tidak tahu wanita mana yang mengisi hati calon suaminya itu.
“Are you jealous? Kamu pasti berpikir tentang Hayu dan Candra bukan? Kalau kamu memikirkan dia sebaiknya antar aku pulang atau antar aku ke rumah mamimu, dia tadi memintaku datang untuk membuat kue-kue kering dengannya.”
Bisma menoleh ke arah Jelita, menatapnya sebentar dan memfokuskan kembali pandangannya pada jalanan yang semakin ramai orang pulang kantor.
“Enggak, jangan berpikir macam-macam, aku mau mengajak kamu makan malam, kamu mau makan di mana? Atau aku yang menentukan tempatnya, cuma aku takut kalau kamu tak cocok dengan suasana di tempat yang aku pilih.”
Jelita tampak berpikir, dia saat ini sedang kesal dan juga galau, jadi apa salahnya kalau mereka makan malam di tempat dengan vibes yang tenang dan menyenangkan, yang bisa membuat moodnya naik.
“Bagaimana kalau ke VV lounge and bar. Menikmati view di sana begitu indah dan menarik, jangan lupakan ada live music dengan lantunan piano yang membuat hati tenang. Bagaimana?”
Bisma mengangguk setuju dengan usulan yang dia berikan, segera Bisma melajukan kendaraannya ke tempat yang akan mereka tuju.
Sampai di tempat yang mereka datangi, Jelita dan Bisma terkejut, mereka melihat mobil Candra berada di sana. Ragu-ragu Jelita berkata dengan Bisma.
“Are you okay, jika mereka ada di dalam. Aku katakan padamu! Aku nggak mau terlihat bodoh di antara kalian. Jadi kalau kamu merasa nggak sanggup melihat Hayu dan Candra, sebaiknya kita jangan masuk dan kita cari tempat yang lain saja.”
Jelita hampir memutar tubuhnya, dia yang tadi tegar kenapa sekarang mendadak sakit hati, takut kalah saing dengan Hayu yang menurutnya masih tidak sekelas dengannya.
Bisma menarik lengan Jelita, “Kita masuk sekarang, bukankah kamu sudah tahu kalau aku menyukai Hayu, jadi kamu juga harus berani mengambil risiko yang akan terjadi!”
Jelita berjalan beriringan dengan Bisma, masuk ke dalam lounge and bar, dilihatnya sekeliling hanya ada Candra seorang diri.
“Apa mungkin Hayu tidak bersamanya, kenapa Candra sendirian, apa mungkin Hayu ke toilet. Sepertinya aku memang harus menyingkirkan perempuan itu,” batin Jelita.
Dia mengekori Bisma yang sudah memilih tempat duduk di sudut yang tak terlihat oleh Candra. Jelita yakin, Bisma juga penasaran dengan siapa Candra berada di sana.
Mereka memesan makanan dan minuman, dua sirloin steik, juga dua gelas Margarita. Bisma masih saja mengawasi Candra yang tampaknya sedang sibuk dengan ponselnya.
Hingga pesanan mereka datang, tak tampak Hayu bersama Candra, ada kelegaan di hati Bisma. Dia pikir Hayu sudah mengkhianati cintanya. Sungguh lelaki dangkal yang tak tahu diri.
Tepat saat mereka makan, Candra yang hendak ke toilet menghampiri mereka berdua. “Sungguh kebetulan yang tidak di sengaja, kenapa bisa kita bertemu di sini? Apa mungkin karena kita bertiga sudah lama tidak hang out bareng, jadi Tuhan mempertemukan kita di sini?"
“Kamu bisa bergabung dengan kami kalau kamu mau,” tawar Jelita pada Candra yang masih berdiri menjulang di hadapan mereka.
“Aku sudah selesai makan, aku mau ke toilet, dan tak sengaja melihat kalian di sini, jadi sebagai kawan, tentu saja aku menyapa kalian. Ngomong-ngomong terima kasih tawarannya, Jel. Tapi sayangnya aku tidak tertarik!”
“Kamu!”
-bersambung-